Berita instaforex, 3 Tantangan Keamanan Siber di Industri 4.0




© Warta Ekonomi. 3 Tantangan Keamanan Siber di Industri 4.0


Warta Ekonomi.co.id, JakartaDalam dunia siber di industri 4.0 mendatang, seluruh jaringan dalam perusahaan akan terhubung melalui router. Dengan begitu, para pelaku industri 4.0 perlu menghadapi ancaman-ancaman dunia maya, yang membuat bisnis menjadi sasaran kejahatan siber yang terus meningkat. Ancaman-ancaman tersebut dijelaskan oleh ESET pada diskusi media bertajuk Tantangan Keamanan Siber di Industri 4.0, Rabu (7/11/2018).Technical Consultant PT Prosperita ESET Indonesia, Yudhi Kukuh menyebutkan, ada tiga tantangan utama yang harus dihadapai pada industri 4.0. Ketiga tantangan itu, Targeted Attack, Ransomware, dan Insider (orang dalam). Dengan adanya tantangan itu, ada beberapa kasus penyerangan siber yang terjadi beberapa waktu belakangan."Terkait dengan perkembangan teknologi ke industri 4.0, banyak sekali kasus yang muncul. Mulai dari kasus BlackEnergy pada 2015, Industroyer pada 2016, hingga GreyEnergy pada 2018," kata Yudhi.Berdasarkan data dari Ponemon Institute pada 2018, rata-rata kerugian akibat pelanggaran data secara global mencapai US$3,86 juta, meningkat 6,4% dari 2017. Selain itu, Breach Level Index mengungkapkan 945 pelanggaran data yang menyebabkan 4,5 miliar catatan data dikompromikan di seluruh dunia pada 6 bulan pertama di 2018. Bila dibandingkan dengan periode yang sama pada 2017, terjadi peningkatan sebesar 133% pada jumlah data yang hilang, dicuri, atau dikompromikan."Sekarang orang menyerang sistem keamanan bukan untuk ajang pamer seperti dulu, melainkan untuk mencari keuntungan dengan cara mencuri data perusahaan," ujar Yudhi lagi.Oleh karena itu, ia menilai ada beberapa tantangan besar yang kemungkinan akan menjadi batu sandungan bagi dunia industri di masa depan, yaitu ancaman-ancaman yang bisa menyebabkan kerusakan dan kerugian besar seperti pada data yang dipaparkan sebelumnya.Targeted AttackBerdasarkan studi dari Enterprise Enviromental Factor (EEF), 48% produsen di beberapa titik sudah merasakan insiden keamanan. Setengah dari produsen tersebut menderita kerugian finansial atau minimal gangguan terhadap bisnis mereka. Menurut survei, salah satu industri yang berisiko mendapatkan serangan siber adalah manufaktur."Dalam targeted attack, yang diincar adalah industri bisnis keuangan, kemudian manufaktur. Contoh kasusnya adalah serangan malware yang sempat memadamkan listrik di Ukraina atau serangan Stuxnet di Iran," papar Yudhi.RansomwareAncaman ransomware masih dinilai paling menakutkan di dunia siber. Bahkan, menurut laporan Verizon 2018, 56% insiden malware melibatkan ransomware, sehingga membuatnya menjadi bentuk malware paling umum. Parahnya, peretas mengincar sistem penting, seperti server, bukan ke perangkat karyawan. Dalam praktiknya, pengembang ransomware mengombinasikannya dengan botnet, bahkan CryptoJacking.Yudhi menjelaskan, "Menghadapi ransomware bukan perkara mudah, bagi sebuah perusahaan memiliki alat proteksi dari ransomware bukan suatu hal yang bisa ditawar-tawar karena ransomware tak pernah pilih-pilih ketika menyerang korbannya."InsiderMenurut Yudhi, terdapat kesenjangan antara pengetahuan karyawan dan perkembangan sistem keamanan siber. Hal itulah yang menyebabkan banyak kebocoran data perusahaan terjadi, tanpa disadari. Misalnya, saat karyawan salah mengirim dokumen, salah menyalin dokumen, dan meninggalkan komputer dalam keadaan terbuka saat tidak dipakai."Seharusnya staf diberikan pelatihan seputar keamanan siber supaya bisa turut menjaganya. Paling mudah itu kalau ada email dari pengirim tak dikenal, diberikan arahan supaya jangan asal klik tautan atau attachment karena itu kemungkinan penyebaran virus," papar Yudhi.Untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut, Yudhi kemudian mengatakan agar perusahaan menggunakan nextgen antivirus atau antivirus yang dirancang untuk keamanan siber di industri 4.0. Salah satunya adalah ESET Endpoint v7 yang dibuat untuk mengatasi tantangan keamanan siber."Dunia IT Security bebenah setiap saat, ESET memiliki Augur, yaitu teknologi machine learning yang dikembangkan berdasarkan pengalaman kami dalam menghadapi ancaman siber," kata Yudhi akhirnya.Penulis: Tanayastri Dini IsnaEditor: RosmayantiFoto: Dina Kusumaningrum

Komentar